Laporan Khusus: Strategi Negara-Negara Asia Timur Menghadapi Resesi Demografi dan Penuaan Populasi.

Laporan Khusus: Strategi Negara-Negara Asia Timur Menghadapi Resesi Demografi dan Penuaan Populasi.

Asia Timur, terutama Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok, menghadapi krisis demografi yang diperkirakan akan menghambat pertumbuhan ekonomi regional selama beberapa dekade mendatang. Tingkat kelahiran yang anjlok dan peningkatan harapan hidup menyebabkan rasio penduduk usia kerja terhadap pensiunan terus menyusut. Jepang memimpin dengan solusi teknologi seperti robot perawat dan otomatisasi industri untuk menutupi kekurangan tenaga kerja di berbagai sektor vital, dari kesehatan hingga manufaktur.

Korea Selatan, dengan tingkat kelahiran terendah di dunia, telah menawarkan serangkaian insentif fiskal dan subsidi perumahan yang besar bagi keluarga baru, namun dampaknya masih minim. Insentif ini sering gagal mengatasi akar masalah, yaitu tingginya biaya hidup di kota besar dan tekanan sosial yang ekstrem untuk bekerja berjam-jam, membuat kaum muda menunda atau menolak pernikahan dan memiliki anak.

Tiongkok, setelah mencabut kebijakan satu anak, kini mendorong kebijakan tiga anak, namun dengan hasil yang beragam. Pemerintahnya juga berinvestasi besar-besaran dalam sistem pensiun dan kesehatan lansia, menyadari bahwa populasi yang menua membutuhkan jaring pengaman sosial yang kuat. Model ini menunjukkan pergeseran prioritas dari pertumbuhan berbasis kuantitas tenaga kerja menjadi pertumbuhan berbasis kualitas dan inovasi teknologi.

Banyak ahli kini beralih fokus dari sekadar meningkatkan angka kelahiran menjadi memaksimalkan partisipasi wanita dan lansia dalam angkatan kerja. Ini mencakup reformasi kebijakan cuti melahirkan yang lebih fleksibel, penghapusan diskriminasi usia dalam pekerjaan, dan pelatihan ulang keterampilan (reskilling) bagi pekerja yang lebih tua agar tetap relevan di era digital.

Kesimpulannya, solusi jangka panjang terletak pada perubahan struktural, termasuk kebijakan imigrasi tenaga kerja terampil yang lebih terbuka—sebuah topik yang sensitif secara politik—dan reformasi radikal pada sistem pendidikan dan pensiun. Bagaimana negara-negara ini menyeimbangkan antara tradisi dan kebutuhan ekonomi modern akan menentukan apakah mereka dapat mempertahankan daya saing global mereka.